skip to main | skip to sidebar

hidayat

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Minggu, 09 November 2014

TUGAS 2 JURNAL ETIKA PROFESI AKUNTANSI

Diposting oleh dayat di 04.19


Kelompok 4
Kelas : 4EB14               
1.  Dwi Indah Nurvitriani (22211241)
2.  Hidayat (23211374)
3.  Ona Sendri Imelda K (25211469)
4.  Rina Mega Ardita (28211730)
5.  Sri Novita Elsa (26211873)


PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR dan ETIKA PROFESI TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT MATERIALITAS

A.M.KURNUAWANDA
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Jambi

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membuktikan secara empiris tentang Pengaruh Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi secara simultan dan parsial terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Analisis data dilakukan dengan metode regresi linier berganda dan pengujian hipotesis dengan uji simultan (Uji F) dan uji parsial (uji t). penelitian ini menggunakan data primer dan diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 9 KAP di Kota Palembang. Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Palembang yang berjumlah 9 KAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Kewajiban Sosial, dan Hubungan Sesama Profesi yang tidak mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Akan tetapi Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, dan Etika Profesi secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas

Kata Kunci : Profesionalisme Auditor, Etika Profesi, Materialitas
PENDAHULUAN
            Di era globalisasi sekarang ini, dimana bisnis tidak lagi mengenal batas Negara, kebutuhan akan laporan keuangan yang dapat dipercaya tidak dapat dielakkan lagi. Eksternal auditor yang independen menjadi salah satu profesi yang dicari. Profesi auditor diharapkan oleh banyak orang untuk dapat meletakkan kepercayaan pada pemeriksaan dan pendapat yang diberikan sehingga profesionalisme menjadi tuntutan utama seseorang yang bekerja sebagai auditor eksternal.
            Gambaran seseorang yang profesional dalam profesi eksternal auditor dicerminkan dalam lima dimensi menurut Hall R Syahrir, (2002 : 7), yaitu 1. Pengabdian pada profesi, 2. Kewajiban sosial, 3. Kemandirian, 4. Kepercayaan pada profesi, 5. Hubungan dengan rekan seprofesi. Eksternal auditor yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan memberikan kontribusi yang dapat dipercaya oleh para pengambil keputusan. Untuk memenuhi perannya yang membutuhkan tanggung jawab besar, eskternal auditor harus mempunyai wawasan yang luas dan pengalaman yang memadai sebagai eksternal auditor.
            Berdasarkan latar belakangan masalah yang telah diuraikan, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah apakah profesionalisme auditor dan etika profesi secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas ?. adapun untuk menguji dan membuktikan secara empiris bahwa profesionalisme auditor dan etika profesi berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pertimbangan tingkat materialitas.

METODE PENELITIAN
1.    Operasionalisasi Variabel
Pada penelitian ini variable independennya adalah profesionalisme auditor yang terdiri dari pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan pada profesi, kewajiban sosial, hubungan dengan sesama profesi dan etika profesi. Sedangkan variable dependennya adalah pertimbangan tingkat materialitas. Pengabdian pada profesi adalah dedikasi profesional dengan kecakapan yang dimiliki serta tetap melaksanakan tugasnya meskipun imbalan intrinsiknya berkurang. Kewajiban sosial adalah pandangan tentang pentingnya peranan profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun profesional karena adanya pekerjaan tersebut. Kemandirian merupakan suatu pandangan seorang profesional yang harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain. Keyakinan pada profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesame profesi, bukan orang luar yang tidak mempunyai kompetem dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka. Hubungan dengan sesama profesi menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk didalamnya organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Etika profesi merupakan kode etik IAPI dan aturan etika Kompartemen Akuntan Publik, Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) dan standar pengendalian mutu auditing merupakan acuan yang baik untuk mutu auditing (Agoes, 2004).
2.    Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Palembang yang berjumlah 9 KAP. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah seluruh auditor yang ada di KAP di Palembang yaitu berjumlah 62 auditor. Dalam penelitian ini criteria penentuan sampel tidak dibatasi oleh jabatan auditoe pada KAP (partner, senior, atau junior auditor) sehingga semua auditor yang bekerja di KAP Palembang dapat diikutsertakan sebagai responden.
3.    Jenis Sumber Daya
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (Indriantoto, 2009). Data-data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui metode survey menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden.
4.    Teknik Analisis Data
MSI (Method of Successive Internal)
            Jenis data yang terkumpul dari kuesioner merupakan data nominal dan ordinal, khususnya yang menyangkut identitas/karakteristik responden. Sedangkan data yang menyangkut jawaban berskala likert, pada dasarnya adalah data ordinal. Oleh karena itu, untuk keperluan analisis dara ordinal perlu ditransformasikan notasi masing-masing jawaban tersebut menjadi data internal dengan menggunakan method of successive internal (Sumarsono, 2002) untuk menetapkan skor (scale value) tiap-tiap butir pertanyaan.
Uji Kualita Data
            Menurut Hair dalam Poniman (2004), kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrument penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas.
Uji Validitas (Ketapatan)
            Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2008). Pendekatan yang digunakan dalam uji validitas (analisis butir) pada penelitian ini adalah dengan membandingkan nilai r (corrected item-total correlation) dengan r table sehingga dapat diketahui item pertanyaan mana yang gugur dan sahih. Item butir pertanyaan sahih jika r hitung > r table (Ghozali, 2009)
            Uji Reliabilitas (Konsistensi)
            Uji reliabilitas digunakan untuk menunjukkan ukuran kestabilan dan konsistensi dari konsep ukuran instrument atau alat ukur, sehingga nilai yang diukur tidak berubah dalam nilai tertentu. Konsep reliabilitas menurut pendekatan ini adalah konsistensi diantara butir-butir pernyataan atau pernyataan dalam suatu instumen. Reliabilitas diukur dengan uji statistic cronbach alpha (a), nunally dalam Ghozali (2009) menyatakan bahwa suatu konstruk atau nilai variable dikatakan reliable jika nilai cronbach alpa > 0,60.
Analisis Kualitatif
            Analisis statistic deskriptif adalah yang berbetuk uraian dari hasil penelitian yang didukung oleh teori dan data yang telah ditabulasi kemudian diikhtisarkan. Analisis ini digunakan untuk memperkuat analisis kuantitatif (Sugiyono, 2008).
Uji Asumsi Klasik
            Pengujian asumsi klasik yang terdiri dari asumsi normalitas, heteroskedastisitas, dan multikolinieritas.
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable dependen dan independen keduanya memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2009). Uji normalitas dalam penelitian ini dapat ditempuh dengan menggunakan grafik normal probability plot yang dimana data terlihat menyebar mengikuti garis diagonal dan diagram histogram yang tidak condong kekiri dan kekanan sehingga dapat dikatakan data berdistribusi normal.
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan lain tetap, maka disebus homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot. Pada grafik plot, jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable bebas (independen). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas didalam model regresi yaitu dengan melihat (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance infitation factor (VIF)

Analisis Regresi Berganda
            Penelitian ini menggunakan model analisis regresi berganda, hal ini menunjukkan hubungan (korelasi) antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya. Analisis tersebut dapat digunakan untuk melihat pengaruh variable independen terhadap variable dependen, dengan model analisis sebagai berikut: Y= a + b X  + b X  + b X  + b X+b X  +b X  +e
5.    Uji Hipotesis
Uji F
            Untuk menguji hipotesis pertama (H1) maka dilakukan uji F atau simultan, dimana uji statistic F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variable independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variable terkait atau dependen. Kesimpulan yang diambil dalam uji F ini adalah signifikasi 0,05 atau 5% untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima atau ditolak.
Uji t
   Untuk menguji hipotesis kedua (H2) sampai hipotesis ke lima (H7) maka dilakukan uji t. uji t dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variable independen secara parsial berpengaruh terhadap variable dependen. Kesimpulan yang diambil dalam uji t ini signifikasi 0,05 atau 5% atau keyakinan 95%.
Koefisien Determinasi
            Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variable-variabel independen dalam menjelaskan variasi variable dependen amat terbatas. Nilai yang mndekati satu berarti variable-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variable dependen, semakin mendekati nilai 1 atau 100%, maka semakin besar pengaruh variable independen terhadap variable dependen (Ghozali, 2009).

HASIL DAN PEMBAHASAN
1.    Uji Kualitas Data
Uji Validitas
            Pengujian validitas instrument dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 19.0, nilai validitas dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation. Jika angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari pada angka kritik (rhitung > rtabel) maka instrument tersebut dikatakan valid. Angka kritik pada penelitian ini adalah df= N-2= 57-2 = 55 dengan taraf signifikan 5% maka angka kritik untuk uji validitas pada penelitian adalah 0,265.
Tabel 1
Hasil Uji Validitas
No
Variabel
r   hitung
r   table
Keterangan
1
Pengabdian pada Profesi
0,303** - 0,888**
0,265
Valid
2
Kewajiban Sosial
0,463** - 0,712**
0,265
Valid
3
Kemandirian
0,827** - 0,952**
0,265
Valid
4
Keyakinan terhadap Profesi
0,562** - 0,738**
0,265
Valid
5
Hubungan Dengan Sesama Profesi
0,363** - 0,865**
0,265
Valid
6
Etika Profesi
0,761** - 0,867**
0,265
Valid
Sumber : Data Primer yang diolah, 2012
Uji Reliabilitas
            Teknik statistic yang digunakan untuk pengujian tersebut dengan koefisien cronbach’s alpha dengan bantuan program software SPSS versi 19.0. Alpha merupakan uji reliabiltas untuk alternative jawaban lebih dari dua. Menurut Ghozali (2005;42) suatu instrument dikatakan reliable jika memiliki koefisien cronbach’s alpha.
Tabel 2
Hasil Uji Reliabilitas
No
Variabel
Cronbach’s
Alpha
Batas
Reliabilitas
Keterangan
1
Pengabdian pada Profesi
0,773
0,6
Reliabel
2
Kewajiban Sosial
0,626
0,6
Reliabel
3
Kemandirian
0,893
0,6
Reliabel
4
Keyakinan terhadap Profesi
0,680
0,6
Reliabel
5
Hubungan Dengan Sesama Profesi
0,806
0,6
Reliabel
6
Etika Profesi
0,854
0,6
Reliabel
Sumber: Data Primer yang diolah, 2012
Uji Asumsi Klasik
            Uji Normalitas
Gambar 1
Grafik Uji Normalitas




Gambar 2
Histogram Uji Normalitas






Uji Heteroskedastisitas
Gambar 3
Grafik Uji Heteroskedastisitas





Uji Multikolinieritas
            Multikolinieritas dapat dilihat pada tolerance value atu variance inflation factor (VIF). Apabila tolerance value dibawah 0,10 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolinieritas (Ghozali, 2009)
Table 3
Hasil Uji Multikolinieritas
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1               (Constant)
Pengabdian terhadap profesi
Kewajiban Sosial
Kemandirian
Keyakinan Terhadap Profesi
Hubungan Sesama Profesi
Etika Profesi
,945
,763
,709
,905
,927
,937
1,058
1,311
1,411
1,105
1,079
1,067


Uji Hipotesis
Uji F
            Uji F digunakan untuk menguji tingkat signifikansi koefisien regresi variable indepen secara simultan terhadap variable dependen, yaitu dengan memperhatikan signifikan uji F pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji F lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variable independen terhadap variable dependen.
Tabel 4
Hasil Uji F
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1               Regression
Residual
Total
748,730
1128,464
1877,195
6
50
56
124,788
22,569
5,529
a
,000
a.       Predictors: (Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan Terhadap Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian Terhadap Profesi, Kemandirian
b.      Dependent Variabel: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS
           
            Uji t
                        Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variable independen secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable dependen, yaitu dengan memperhatikan signifikan uji t pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji t lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variable independen terhadap variable dependen.
Table 5
Hasil Uji t
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1               (Constant)
Pengabdian terhadap profesi
Kewajiban Sosial
Kemandirian
Keyakinan Terhadap Profesi
Hubungan Sesama Profesi
Etika Profesi
14,774
,054
,054
,826
,805
,125
1,575
11,243
,228
,260
,333
,289
,175
,329
,027
,026
,323
,322
,081
,543
1,314
,236
,207
2,480
2,791
,713
4,791
,195
,815
,837
,017
,007
,479
,000
a.       Dependent Variabel: Tingkat Materialitas
1.      Pengaruh pengabdian terhadap profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable pengabdian terhadap profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,815 dan thitung 0,236. Oleh kerena p value lebih besar dari 0,05, maka pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
2.      Pengaruh kewajiban sosial terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable kewajiban sosial diperoleh nilai p value sebesar 0,837 dan thitung 0,207. Oleh karena p value lebih besar dari 0,05, maka kewajiban sosial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
3.      Pengaruh kemandirian terhadap tingkat materialitas
Dari hasil pengujian hipotesis variable kemandirian diperoleh nilai p value sebesar 0,017 dan thitung 2,480. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka kemandirian berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
4.      Pengaruh keyakinan terhadap profesi terhadap tingkat materialitas
Dari hasil pengujian hipotesis variable keyakinan terhadap profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,007 dan thitung 2,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka keyakinan terhadap profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
5.      Pengaruh hubungan sesame profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable hubungan dengan sesame profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,479 dan thitung 0,731. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka hubungan dengan sesame profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
6.      Pengaruh etika profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable etika profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,000 dan thitung 4,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka etika profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.







Hasil Persamaan Regresi
Tabel 6
Hasil Persamaan Regresi
Model
Unstandardized Coefficients
B
Std. Error
1               (Constant)
Pengabdian terhadap profesi
Kewajiban Sosial
Kemandirian
Keyakinan Terhadap Profesi
Hubungan Sesama Profesi
Etika Profesi
14,774
,054
,054
,826
,805
,125
1,575
11,243
,228
,260
,333
,289
,175
,329
a. Dependent Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS
Y= 14.774 + 0,054 X1 + 0,054 X2 + 0,826 X3 + 0,504 X4+ 0,125X5+ 1,575X6
Analisis Koefisien Determinasi (R2)
            Koefisien determinasi (R2) mengukur berapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variable independen.
Table 7
Hasil Koefisien Determinasi (R2)
Model
R
R
Square
Adjusted
R
Square
Std.
Error of
the
Estimate
1
a
,632
,399
,327
475,071
a. Predictors: (Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian
pada Profesi, Kemandirian b. Dependent Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS

PEMBAHASAN
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable pengabdian terhadap profesi yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai pengabdian terhadap profesi (sign t) 0,815 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, pengabdian terhadap profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung,  dan diketahui nilai thitung,  0,236 < ttabel 2,008, artinya pengabdian terhadao profesi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable kewajiban sosial yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai kewajiban sosial (sign t) 0,837 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, kewajiban sosial dapat pula dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 0,207 <  ttabel 2,008, artinya kewajiban sosial secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi dan Mardiyah (2006) yang menyatakan bahwa kewajiba sosial tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable kemandirian yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai kewajiban sosial (sign t) 0,017 < 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, kemandirian dapat pula dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 2.480 > ttabel  2,008, artinya kemandirian secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Theresia dkk (2003) dan Rahmawati (1997) yang menyatakan bahwa kemandirian berpengaruh terhadap pertimbangan materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable keyakinan terhadap profesi yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai keyakinan terhadap profesi (sign t) 0,007 < 0,005. Selain dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 2,791 > ttabel 2,008, artinya keyakinan terhadap profesi secara parsial berpengaruh terhdap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa keyakinan terhadap profesi berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable hubungan sesame profesi yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai hubungan sesame profesi (sign t) 0,479 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilutas, hubungan sesama profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 0,713 < ttabel   2,008, artinya hubungan sesama profesi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sehalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa hubungan sesame profesi tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable etika profesi yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai etika profesi (sign t) 0,000 < 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, etika profesi dapat pula dilihar dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 4,791 > ttabel 2,008, artinya etika profesi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arleen Herawaty dan Yulius Susanto (2009) yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesimpulan sebagai berikut Secara simultan Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Materialitas. Sedangkan secara parsial variable Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, ada tiga variable yang berpengaruh terhadap tingkat materialitas yaitu : Kemandirian, keyakinan terhadap profesi, dan etika profesi. Sedangkan pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial dan hubungan sesame profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
DAFTAR PUSTAKA
            Agoes, Sukrisno (2004). Auditing Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor Akuntan Publik . Jakarta: LPEE_UI.
            Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Progaram SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.
            Hastuti, Dwi, Theresia, dkk, Hubungan Antara Profesionalisme Auditor Dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas Dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan, Simposium Nasional Akuntansi VI, Jakarta, 2003.
            Herawaty, Arleen dan Yulius Kurnia Susanto. Profesionalisme, Pengetahuan Akuntan Publik dalam Mendeteksi Kekeliruan, Etika Profesi dan Pertimbangan Tingkat Materialitas. The 2nd National Conference UKWMS, Surabaya, 2009.
            Indriantoro, Nur, Bambang Supomo, Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen Ed 1, BPFE, Yogyakarta, 1999.
            Rahmawati, Hubungan antara Profesionalisme Internal Auditor dengan Kinerja Tugas, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Keinginan Untuk Pindah, Tesis S2 Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1997.
            Rifqi, Muhammad, Analisis Hubungan Antara Profesionalisme Auditor Dengan Pertimbangan tingkat Materialitas Dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan, Jurnal Fenomena, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2008.
            Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian. Bandung. Penerbit: CV. Alfabeta, 2007.
            Sumarsono, Metode Penelitian Akuntansi, Beserta Contoh Intepretasi Hasil Pengolahan data. (2002).
            Syahrir, Analisis Hubugan Antara Profesionalisme Akutan Publik Dengan Kinerja, Kepuasan Kerja, Komitmen, dan Keinginan Berpisah, Tesis S2, Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2002.
            Wahyudi, Hendro dan Aida Ainul Mardiyah. Pengaruh Profesionalisme Auditor terhadap Tingkat Materialitas dalam Pemeriksaan Laporan Keuangan Simposiun Nasionala Akuntansi IX Padang, 2006.
Wahyudi, Hendro dan Aida Ainul Mardiyah.
Pengaruh Profesionalisme Auditor terhadap
Tingkat        Materialitas        dalam
Pemeriksaan         Laporan         Keuangan.
Simposium Nasional    Akuntansi
IX,                     Padang,                     2006.

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Minggu, 26 Oktober 2014

PERBAIKAN TUGAS 1 ETIKA PROFESI AKUNTANSI (SOFTSKILL)

Diposting oleh dayat di 06.33
Kelompok 4
Kelas : 4EB14               
1.  Dwi Indah Nurvitriani (22211241)
2.  Hidayat (23211374)
3.  Ona Sendri Imelda K (25211469)
4.  Rina Mega Ardita (28211730)
5.  Sri Novita Elsa (26211873)

Judul Buku          : Standar Profesional Akuntan Publik
Nama Pengarang  : Institut Akuntan Publik Indonesia
Penerbit               : Salemba Empat, 2011
Tahun                  : 2011
Sinopsis              :
Dalam memasuki lingkungan bisnis yang turbulen dan kompetitif, setiap profesi berusaha untuk senantiasa menemukan kembali keunggulan kompetitif masing-masing, agar keberadaan profesi tersebut tetap bernilai tambah bagi masyarakat. Profesi akuntan publik membangun keunggulan kompetitifnya dalam masyarakat melalui pengembangan secara berkelanjutan standar profesional bertaraf internasional. Pengembangan ini dimaksudkan agar jenis dan kualitas jasa yang disediakan oleh profesi akuntan publik memenuhi kebutuhan masyarakat.

Profesi akuntan publik memasuki lingkungan bisnis yang semakin kompleks, kompetitif, dan turbulen. Dalam lingkungan seperti itu, kebutuhan masyarakat atas jasa profesi akuntan publik juga mengalami perubahan sejalan dengan kepesatan, keserentakan, keradikalan, dan kepervasivan perubahan lingkungan bisnis tersebut. Kemampuan untuk melakukan pengamatan terhadap trend perubahan dan kecepatan tanggap (responsiveness) profesi akuntan publik terhadap kebutuhan.

















0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Sabtu, 04 Oktober 2014

Etika Profesi Akuntansi (Softskill)

Diposting oleh dayat di 08.34
Kelompok 4
Kelas : 4EB14               
1.  Dwi Indah Nurvitriani (22211241)
2.  Hidayat (23211374)
3.  Ona Sendri Imelda K (25211469)
4.  Rina Mega Ardita (28211730)
5.  Sri Novita Elsa (26211873)

Judul Buku       : Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya
Nama               : Dr. A. Sonny Keraf
Penerbit            : Kanisius
Sinopsis           :
Tuntutan bahwa bisnis harus beretika mutlak, tak dapat ditawar jika bisnis ingin berkembang dan lestari. Artinya kebiasaan berbisnis secara baik dan etis memang menjadi sebuah tuntunan dari dalam setiap perusahaan yang berkeinginan membangun sebuah dinasti bisnis yang berhasil dan tahan lama. Bagi mereka yang berbisnis dan visi jangka panjang, kehadiran buku ini akan memberikan wawasan luas untuk menyusun strategi, membuat kebijakan, dan menentukan pilihan-pilihan etis yang dapat memperkokoh usaha bisnisnya. Bagi dosen dan mahasiswa filsafat, buku ini akan memberikan kerangka analisis yang tajam dan mengena.
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Rabu, 11 Juni 2014

TUGAS SOFTSKILL BAHASA INGGRIS BISNIS 2 (3) : TUGAS INDIVIDU

Diposting oleh dayat di 08.03
1. Rudy ke kampus tidak pernah datang on time.  
   Rudy ke kampus tidak pernah datang tepat waktu.

2. Adik saya suka mengupload foto ke facebook.
   Adik saya suka mengunggah foto ke facebook.

3. Karena sibuk, data yang kemarin lupa disave.
   Karena sibuk, data yang kemarin lupa disimpan.

4. Ibu saya selalu mensuport saya untuk hal pendidikan.
   Ibu saya selalu mendukung saya untuk hal pendidikan.

5. Sejak 2 tahun yang lalu Ani sudah lost contact dengan Irfan
   Sejak 2 tahun yang lalu Ani sudah putus komunikasi dengan Irfan.

6. Hanny mengajak saya dinner minggu depan.
    Hanny mengajak saya makan malam minggu depan.

7. Saya sudah punya feeling kalau mereka akan jadian.
   Saya sudah punya firasat kalau mereka akan jadian.

8. Kalau sedang libur saya suka refreshing ke pantai.
   Kalau sedang libur saya suka jalan-jalan ke pantai.

9. Sebelum married saya harus punya rumah dahulu.
   Sebelum menikah saya harus punya rumah dahulu.

10. Dayat dari kecil adalah anak yang smart dan rajin.
   Dayat dari kecil adalah anak yang pintar dan rajin.

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Selasa, 29 April 2014

Report Text Inflation in Indonesia 2013

Diposting oleh dayat di 09.28
Bank Indonesia raised its key interest rate more than economists forecast to bolster a weakening currency and ease inflation pressures after the government increased fuel prices.

The central bank boosted the reference rate by 50 basis points to 6.5 percent. The outcome was predicted by three of 19 economists surveyed by Bloomberg News, with the majority expecting a 25 basis-point increase. It also raised the deposit facility rate to 4.75 percent from 4.25 percent.

Indonesia in June became the region’s first major economy to boost rates in 2013, and the back-to-back increase may bolster confidence in the rupiah as the central bank tries to shore up one of Asia’s worst performing currencies. Price gains are expected to peak in July.
Bank Indonesia is also aiming to take some of the pressure off the rupiah. The sharp fuel-price rise and associated interest-rate tightening measures, which may well not have finished yet, is coming at a time when the economy is softening.”

The rupiah was little changed at 9,973 per dollar as of 4:25 p.m. in Jakarta, prices compiled by Bloomberg from local banks show. It has fallen about 6 percent in the past 12 months, the worst performer among 11 Asian currencies after the yen and the Indian rupee.

 Indonesia’s foreign-exchange reserves fell to $98.1 billion from $105.15 billion in May 2013, the central bank said as it intervened. The levels are still adequate to stabilize the currency, Martowardojo said last week.

President Susilo Bambang Yudhoyono last month raised domestic fuel prices for the first time since 2008 to cut subsidy costs and boost confidence in the rupiah. Consumer prices rose 5.9 percent in June from a year earlier, from 5.47 percent in May.

The central bank raised the benchmark rate by half a percentage point because it sees price gains approaching the upper end of its 7.2 percent-to-7.8 percent range for 2013 and as transportation costs rose “too steeply” after the fuel subsidy cuts, Martowardojo said today. Before the fuel price increase, it had expected inflation to be between 3.5 percent and 5.5 percent.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Minggu, 30 Maret 2014

English task : Cultural Etiquette in Business

Diposting oleh dayat di 20.39
Members of the group:
Hidayat
Mifta Huljannah
Nisa Nur Hikmah
Nuriyanti Oktavia

Class: 3EB14

India Introduction
India is officially called Republic of India (Hindi Bharat), is located in southern Asia and is a member of the Commonwealth of Nations. India consists geographically of the entire Indian Peninsula and portions of the Asian mainland. To its north lies Afghanistan, China, Nepal, and Bhutan; to its east is Bangladesh, Myanmar (formerly known as Burma), and the Bay of Bengal; Palk Strait and the Gulf of Mannar (which separate it from Sri Lanka) and the Indian Ocean are to the south; and on the west is the Arabian Sea and Pakistan.
India is predominantly Hindu, with 81% of the population practicing that religion. Next is Muslim at 12%, Christian at 2%, and all others within the last 5% of the society. It has been found that in most cultures, their is a correlation between a country's religion and the Hofstede Dimension rankings it has. There is only one country with over 50% of its population practicing the Hindu religion – India.

Indian Society & Culture
Hierarchy
The influences of Hinduism and the tradition of the caste system have created a culture that emphasizes established hierarchical relationships.
Indians are always conscious of social order and their status relative to other people, be they family, friends, or strangers.
All relationships involve hierarchies. In schools, teachers are called gurus and are viewed as the source of all knowledge. The patriarch, usually the father, is considered the leader of the family. The boss is seen as the source of ultimate responsibility in business. Every relationship has a clear- cut hierarchy that must be observed for the social order to be maintained.

The Role of the Family
People typically define themselves by the groups to which they belong rather than by their status as individuals. Someone is deemed to be affiliated to a specific state, region, city, family, career path, religion, etc.
This group orientation stems from the close personal ties Indians maintain with their family, including the extended family.
The extended family creates a myriad of interrelationships, rules, and structures. Along with these mutual obligations comes a deep-rooted trust among relatives.

Just Can't Say No
Indians do not like to express 'no,' be it verbally or non- verbally.
Rather than disappoint you, for example, by saying something isn't available, Indians will offer you the response that they think you want to hear.
This behaviour should not be considered dishonest. An Indian would be considered terribly rude if he did not attempt to give a person what had been asked.
Since they do not like to give negative answers, Indians may give an affirmative answer but be deliberately vague about any specific details.  This will require you to look for non-verbal cues, such as a reluctance to commit to an actual time for a meeting or an enthusiastic response.

India Appearance
Men are generally expected to wear a suit and tie for business, although the jacket may be removed in the summer. Women should wear conservative dresses or pantsuits.
When dressing casual, short-sleeved shirts and long pants are preferred for men; shorts are acceptable only when exercising. Women must keep their upper arms, chest, back, and legs covered at all times.
Women should wear long pants when exercising.
The use of leather products including belts or handbags may be considered offensive, especially in temples. Hindus revere cows and do not use leather products.

India Behavior
The head is considered the seat of the soul. Never touch someone else’s head, not even to pat the hair of a child.
Beckoning someone with the palm up and wagging one finger can be construed as in insult. Standing with your hands on your hips will be interpreted as an angry, aggressive posture.
Whistling is impolite and winking may be interpreted as either an insult or a sexual proposition.
Never point your feet at a person. Feet are considered unclean. If your shoes or feet touch another person, apologize.
Gifts are not opened in the presence of the giver. If you receive a wrapped gift, set it aside until the giver leaves.
Business lunches are preferred to dinners. Hindus do not eat beef and Muslims do not eat pork.

India Communications
There are more than fourteen major and three hundred minor languages spoken in India. The official languages are English and Hindi. English is widely used in business, politics and education.
The word "no" has harsh implications in India. Evasive refusals are more common, and are considered more polite. Never directly refuse an invitation, a vague "I’ll try" is an acceptable refusal.
Do not thank your hosts at the end of a meal. "Thank you" is considered a form of payment and therefore insulting.
Titles are very important. Always use professional titles.

Etiquette and Customs in India
Meeting Etiquette
Religion, education and social class all influence greetings in India.
This is a hierarchical culture, so greet the eldest or most senior person first.
When leaving a group, each person must be bid farewell individually.
Shaking hands is common, especially in the large cities among the more educated who are accustomed to dealing with westerners.
Men may shake hands with other men and women may shake hands with other women; however there are seldom handshakes between men and women because of religious beliefs. If you are uncertain, wait for them to extend their hand.

Gift Giving Etiquette
Indians believe that giving gifts eases the transition into the next life.
Gifts of cash are given to friends and members of the extended family to celebrate life events such as birth, death and marriage.
It is not the value of the gift, but the sincerity with which it is given, that is important to the recipient.
If invited to an Indian's home for a meal, it is not necessary to bring a gift, although one will not be turned down.
Do not give frangipani or white flowers as they are used at funerals.
Yellow, green and red are lucky colours, so try to use them to wrap gifts.
A gift from a man should be said to come from both he and his wife/mother/sister or some other female relative.
Hindus should not be given gifts made of leather.
Muslims should not be given gifts made of pigskin or alcoholic products.
Gifts are not opened when received.

Dining Etiquette
Indians entertain in their homes, restaurants, private clubs, or other public venues, depending upon the occasion and circumstances.
Although Indians are not always punctual themselves, they expect foreigners to arrive close to the appointed time.
Take off your shoes before entering the house.
Dress modestly and conservatively.
Politely turn down the first offer of tea, coffee, or snacks. You will be asked again and again. Saying no to the first invitation is part of the protocol.

There are diverse dietary restrictions in India, and these may affect the foods that are served:
Hindus do not eat beef and many are vegetarians.
Muslims do not eat pork or drink alcohol.
Sikhs do not eat beef.
Lamb, chicken, and fish are the most commonly served main courses for non-vegetarian meals as they avoid the meat restrictions of the religious groups.
Much Indian food is eaten with the fingers.
Wait to be told where to sit.
If utensils are used, they are generally a tablespoon and a fork.
Guests are often served in a particular order: the guest of honour is served first, followed by the men, and the children are served last. Women typically serve the men and eat later.
You may be asked to wash your hands before and after sitting down to a meal.
Always use your right hand to eat, whether you are using utensils or your fingers.
In some situations food may be put on your plate for you, while in other situations you may be allowed to serve yourself from a communal bowl.
Leaving a small amount of food on your plate indicates that you are satisfied. Finishing all your food means that you are still hungry.

Business Etiquette and Protocol in India
Relationships & Communication
Indians prefer to do business with those they know.
Relationships are built upon mutual trust and respect.
In general, Indians prefer to have long-standing personal relationships prior to doing business.
It may be a good idea to go through a third party introduction. This gives you immediate credibility.

Business Meeting Etiquette
If you will be travelling to India from abroad, it is advisable to make appointments by letter, at least one month and preferably two months in advance.
It is a good idea to confirm your appointment as they do get cancelled at short notice.
The best time for a meeting is late morning or early afternoon. Reconfirm your meeting the week before and call again that morning, since it is common for meetings to be cancelled at the last minute.
Keep your schedule flexible so that it can be adjusted for last minute rescheduling of meetings.
You should arrive at meetings on time since Indians are impressed with punctuality.
Meetings will start with a great deal of getting-to- know-you talk. In fact, it is quite possible that no business will be discussed at the first meeting.
Always send a detailed agenda in advance. Send back-up materials and charts and other data as well. This allows everyone to review and become comfortable with the material prior to the meeting.
Follow up a meeting with an overview of what was discussed and the next steps.

Business Negotiating
Indians are non-confrontational. It is rare for them to overtly disagree, although this is beginning to change in the managerial ranks.
Decisions are reached by the person with the most authority.
Decision making is a slow process.
If you lose your temper you lose face and prove you are unworthy of respect and trust.
Delays are to be expected, especially when dealing with the government.
Most Indians expect concessions in both price and terms. It is acceptable to expect concessions in return for those you grant.
Never appear overly legalistic during negotiations. In general, Indians do not trust the legal system and someone's word is sufficient to reach an agreement.
Do not disagree publicly with members of your negotiating team.
Successful negotiations are often celebrated by a meal.

Dress Etiquette
Business attire is conservative.
Men should wear dark coloured conservative business suits.
Women should dress conservatively in suits or dresses.
The weather often determines clothing. In the hotter parts of the country, dress is less formal, although dressing as suggested above for the first meeting will indicate respect.

Titles
Indians revere titles such as Professor, Doctor and Engineer.
Status is determined by age, university degree, caste and profession.
If someone does not have a professional title, use the honorific title "Sir" or "Madam".
Titles are used with the person's name or the surname, depending upon the person's name. (See Social Etiquette for more information on Indian naming conventions.)
Wait to be invited before using someone's first name without the title.

Business Cards
Business cards are exchanged after the initial handshake and greeting.
If you have a university degree or any honour, put it on your business card.
Use the right hand to give and receive business cards.
Business cards need not be translated into Hindi.
Always present your business card so the recipient may read the card as it is handed to them.

Source data:
http://cyborlink.com/besite/india.htm
http://www.kwintessential.co.uk/resources/global-etiquette/india-country-profile.html
http://www.forbes.com/sites/susanadams/2012/06/15/business-etiquette-tips-for-international-travel/

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Mengenai Saya

Foto saya
dayat
Lihat profil lengkapku


MusicPlaylistView Profile
Create a MySpace Playlist at MixPod.com

Blog Archive

  • ▼  2015 (3)
    • ▼  Juni (1)
      • TUGAS 3 AKUNTANSI INTERNASIONAL
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (15)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (6)
    • ►  April (6)
  • ►  2012 (21)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (6)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2011 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)

Followers

Arsip Blog

  • ▼  2015 (3)
    • ▼  Juni (1)
      • TUGAS 3 AKUNTANSI INTERNASIONAL
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (15)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (6)
    • ►  April (6)
  • ►  2012 (21)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (6)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2011 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
Diberdayakan oleh Blogger.
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com